Nihaooooo!!!
Alhamdulillah... tahun ini masih
dikasih kesempatan lagi sama Allah SWT untuk bisa mengeksplor satu lagi negeri
ciptaanNya dan mensyukuri segala nikmat yang ditaburkanNya di berbagai belahan
bumi. Tepat 19 Desember 2014 kemarin, saya dan dua orang teman dari Indonesia
bisa dengan selamat menginjakkan kaki di Kaohsiung International Airport,
sebuah kota pelabuhan dan juga kota kedua terbesar di Taiwan yang terletak di ujung
sebelah selatan Taiwan.
Meskipun kebanyakan wilayahnya pesisir, tapi langsung
saja angin sejuk menyapa saya dan dua teman lainnya seketika tour guide yang menjemput kami di
bandara mengantarkan kami keluar dari bandara menuju bus penjemputan. Saya
mengaktifkan gadeget yang sedari tadi
di pesawat saya matikan, suhu udara 12 derajat. Waw... pantas saja!
Bus mengantar kami menuju
penginapan di Hotel Kingdom kurang lebih memakan waktu 30 menit. Sepanjang
jalan saya tak henti-hentinya mengagumi jalanan Taiwan. Letak tata bangunan,
aturan transportasi, pejalan kaki di Taiwan tidak jauh berbeda dengan Korea,
rapih dan tertib. Sampai di hotel, setelah mengurus urusan check in dan lain sebagainya, kami langsung beristirahat di kamar.
Kali ini, saya bukan backpacker tapi koperpacker hahaha jadi lumayan bisa
menyewa hotel berbintang empat untuk tempat singgah kami. Setelah melaksanakan sholat
Dzuhur-Ashar dan beristirahat secukupnya, kami mulai eksplorasi perjalanan
kami! Sore ini diawali dengan berjalan-jalan di sekitar hotel kami, menuju ke
venue Kaohsiung Intenational Exhibition. Oh ya, dari hotel tempat kami menginap
dapat menikmati pemandangan Love River, ituloh salah satu landmark sungai
terkenal di Kaoshiung.
Karena padatnya acara eksibisi
dan kompetisi dari panitia pelaksana KIE, kami baru benar-benar bisa menikmati tour di hari Minggunya pada tanggal 21
Desember. Tujuan pertama kami adalah Former British Consulate yang terletak di distrik
Gushan tepatnya di daerah perbukitan Shaochuantou. Gedung ini dibangun
menghadap pelabuhan Kaohsiung dan merupakan gedung bergaya barat tertua di
Taiwan, sehingga sudah ditetapkan sebagai situs peninggalan sejarah oleh
pemerintah Taiwan. Untuk mencapai gedung yang dibangun dari batu bata berwarna
merah ini, saya dan rombongan harus menaiki anak tangga sejumlah 128 anak
tangga (katanya sih segitu, tapi emang cuapeknya puol). Meskipun cukup
melelahkan, tapi semuanya akan terbayar dengan pemandangan Kota Kaohsiung yang
menakjubkan ketika kita sampai di atas. Bahkan, beruntungnya kami yang dapat
menyaksikan matahari terbenam dari atas bukit. Oh ya, di Former British
Consulate ini juga terdapat kuil, tapi saya lupa nama kuilnya apa ._.v Tapi ada
juga budaya Jepang, Tanzaku, yaitu menuliskan keinginan di kertas cokelat terus
diikat pakai tali merah, lalu digantung di sepanjang kuil itu, miriip kaya
fenomena gembok cinta di Paris dan Seoul Tower, cuma ini pakai kertas.
Oke, sekitar petang kami
serombongan dijadwalkan untuk makan malam menikmati seafood. Tapi ada kejadian cukup lucu waktu itu. Jadi, dikarenakan
ingat belum melaksanakan sholat Ashar, kami beberapa delegasi Indonesia
memutuskan untuk melaksanakan sholat Ashar dulu sambil menunggu rombongan lain
yang belum datang. Ehh... belum ada 1 rakaat, rombongan sudah berkumpul semua
dan siap berangkat! Parahnya, panitia dan tour
guide tidak ada yang melihat kami sedang sholat (padahal kami ada persis di
belakang barisan). Setelah sholat, kami berlari-lari mengejar rombongan, namun
tidak ketemu. Panik dong, hari sudah gelap, dan semakin dingin, alat komunikasi
juga tidak bisa dipakai. Ternyata bukan cuma kami yang tertinggal, ada beberapa
rombongan lain dari Korea dan Filipina juga yang tertinggal. Hahaha... jadilah
3 negara ini luntang-luntung menunggu bis dan panitia datang kembali untuk
menjemput. Setelah bertemu dengan tour
guide, langsung saja kata-kata awal yang kami dengar dari peserta lain di
bis (ada dari Hong Kong dan Malaysia), “Where have you been, guys?!!”. Hahaha
malu -_-
Setelah itu, kami diajak makan
malam di sebuah restauran seafood di
daerah *tetooott*, mohon maaf lagi-lagi
saya kurang memperhatikan tour guide dan
lupa bertanya juga daerah restauran itu. Maklum, masih nervous gara-gara insiden “lost
in Taiwan” tadi. Yang jelas, restauran ini menyajikan berbagai macam olahan seafood, seneng dong?! Tapi tetap aja
ada BABI-nya, dan kia cuma bisa makan nasi hahhaa. Ornag Hong Kong yang tadi
satu bis dengan kita senang sekali semeja dengan kita, karena dia bisa makan
semuanya *pikiran jahat*. Setelah makan malam, kami diajak naik kincir angin di
Dream Mall. Naik kincir angin malam-malam, waaaawwwww bagus bangeeetttt!!!!!! Kami
menikmati keindahan kota Kaohsiung di malam hari. Subhanallah......... maka
nikmat Tuhanmu yang mana lagikah yang kau dustakan?
Dan jalan-jalan kami hari ini ditutup dengan kunjungan
ke pasar malam Liu He. Yupz.... belum ke Kaohsiung namanya kalau belum
mencicipi jajanan di night marketnya.
Liu He night market ini merupakan
salah satu pasar malam terkenal di Kaohsiung. Ada satu lagi pasar malam yang
masih satu komplek dengan Liu He *maaf saya lagi-lagi lupa namanya, nama Cina
mirip-mirip susah diinget*, yang jelas kalau dalam bahasa Inggrs pasar malam
ini berarti “Victory” dan “Diamond”. Di pasar malam ini, kita disuguhi banyak banget
jajanan jalanan khas Taiwan dan juga seafood
street, tapi karena perut kita-kita masih full akibat makan malam tadi,
jadi kita memutuskan untuk membeli barang-barang aja daripada kulineran. Harga barang-barang
di pasar malam ini relatif murah kalau kita bisa nawar. Saya beli 1 mantel
cuakep beneeeerrr yang emang udah saya idam-idamkan dan cari-cari di Jakarta
dari dulu tapi gak ada. Awalnya si penjual nawarin harga TWD 2000 (sekitar 880
ribu rupiah), tapi karena kegigihan saya menawar (pake cara ditinggal dulu
penualnya), akhirnya saya dapat harga yang lumayan jadi cuma TWD 1400 (cuma sekitar
600 ribu rupiah), kalau di Jakarta harga mantel begini bisa diatas sejuta loh!
Malam itu, saya cukup puas dengan hanya membeli mantel. Perjalanan kita
selanjutnya adalah hotel dan tiduuurrrr. Beristirahat, karena besok pagi kita
masih punya one day full of tour dengan
destinasi yang lebih menyenangkan!
Jalan-jalan ke Former British Consulate
Menikmati makan malam seafood, menikmati keindahan malam
hari Kaohsiung dari kincir angin di Dream Mall, dan jalan-jalan malam
di Liu he Night Market.
0 komentar:
Posting Komentar