19 Mei 2014
Hari ini kami sempatkan dulu berkunjung ke satu-satunya
Masjid di kota Seoul, Korea Selatan. Masjid ini terletak di Itaewon. Oh iya,
Itaewon ini satu-satunya perkampungan Muslim di Seoul. Disini mayoritas
masyarakat Muslimnya paling banyak. Tidak heran kalau kita yang memakai
kerudung datang kesini, banyak yang menyapa kita dengan “
assalamualaikum”. Disini juga terdapat banyak restoran Halal,
penjualnya orang Turki kebanyakan, dan tentu saja es krim terkenal dari Turki
yaitu Dondurma (gak tau nulisnya), ada disini! Dan siap-siap aja dikerjain sama
penjualnya yaa kalau beli es krim ini hahaha...
Untuk mencapai Itaewon, saya pergi dari stasiun Seoul Natl.
University of Education lalu transit di
Yaksu, pindah ke line stasiun Itaewon. Perjalanan ke Mesjid Itaewon ini
cukup menanjak dan Masjidnya memang agak masuk-masuk jadi agak sulit
menemukannya, kalau sendiri. Tapi waktu itu saya dan teman-teman bertanya ke
Kantor Polisi di dekat exit 1 stasiun Itaewon. Dan tenang aja, orang-orang
disini bisa langsung tau kok dimana Masjid Itaewon, tapi jangan tanya dengan
kata “Mosque” atau “Place for Moeslim to pray”, karena gak akan ngerti tuh.
Mending gampangnya, download aja foto Masjidnya, trus tunjukin deh. Pengalaman
saya sih cara begini lebih ampuh daripada tanya sana sini pakai bahasa Inggris.
Sesampainya kita di Masjid Itaewon, kita disuguhi dengan
pemandangan kota Seoul yang indaaaahhhh bangeeett. Beruntung juga Masjid ini
terletak di atas, jadi bisa dapat pemandangan Seoul. Di Masjid ini juga
terdapat, sekolah Islam milik pemerintah Turki. Waktu itu, kami sampai disini pagi
hari dan belum masuk waktu sholat wajib apapun, jadi kami tidak dengar adzan.
Tapi, keinginan untuk bisa merasakan sholat di Masjid ini, kamipun melaksanakan
sholat Dhuha.
Setelah dari Masjid Itaewon, sekitar 1-1,5 jam kami berada
di Masjid, kami mealnjutkan perjalanan ke Gyeobokgung palace. Dari sini
perjalanan agak lumayan jauh, sekitar 30-45 menit. Dari stasiun Itaewon, kami
transit di stasiun Yaksu, lalu lanjut ke stasiun Gyeobokgung.
Sesampainya di stasiun Gyeobokgung, sudah terasa banget nih
suasana kerajaannya. Terlihat dari desain arsitektur stasiunnya yang lantainya
terbuat dari ubin pasir, dan tembok sekitarnya hanya berupa bata batako yang
tidak di cat. Untuk mencapai Gyeobokgung tidak terlalu sulit dari stasiun ini,
ikuti saja pintu keluar, otomatis langsung diarahkan keluar ke Istana
Gyeobokgung.
Waktu itu kami tiba di Gyeobokgung sekitar pukul 12 siang,
silau dan terang sekali rasanya, tapi anehnya tidak panas. Sebetulnya ada
kejadian yang membuat saya trauma ke tempat ini. Tepat sekali saya baru sampai,
ketika sedang asyik berfoto-foto, dibelakang saya ada seorang bapak yang
tiba-tiba terjatuh tanpa sebab, lalu dari mata, hidung, dan telinganya keluar
darah. Mukanya merah semua penuh darah, dan tidak ada orang-orang disekitarnya
yang menolong. Alhasil saya yang mondar-mandir mencari petugas istana untuk
membantu orang tersebut. Untungnya salah satu pengunjung ada yang seorang
dokter, dan sembari menunggu ambulans datang, pengunjung tersebut yang
melakukan pertolongan pertama. Saya hanya bisa melihat persitiwa tersebut
dengan perasaan bercampur antara kaget, kasihan, takut, bingung, semua
bercampur. Sekitar 15 menit kemudian ambulans datang.
Merasa orang tersebut sudah mendapat penanganan yang tepat,
orang-orang pun satu persatu mulai meninggalkan TKP. Setelah itu, aku dengan
perasaan yang masih tidak karuan pun memang harus mlanjutkan perjalanan. Kami tidak
masuk ke istana Gyeobokgung, karena harga tiketnya cukup mahal untuk ukuran
kami yang backpackeran ketika itu. Alhasil
kami hanya berfoto-foto di luar halaman istana.
Tidak lama setelah itu, ada pertunjukan istana di gerbang
istana. Kami pun bergegas kesana untuk melihat pertunjukan. Pertunjukan yang
berlangsung selama kurang lebih 20 menit, menurut saya sih berisikan, seperti
upacara para penjaga istana. Setelah menyaksikan pertunjukan, kami bergegas masuk lagi ke halaman istana, karena
kami akan berfoto menggunakan baju penjaga istana, lumayan... gratis. Saya lupa,
foto menggunakan baju istana ini dibuka setiap berapa jam sekali, tapi kita
hanya diperbolehkan berfoto selama 5 menit dan hanya disekitar halaman istana
saja.
Setelah puas berfoto memakai baju penjaga istana, kami
bergegas ke arah pintu gerbang istana dan menyebrang menuju lapangan depan. Di lapangan
ini, terdapat patung Raja Sejong, orang yang mengajarkan huruf Haneul, huruf
khas Korea ke masyarakat Korea. Selain itu,
untuk para penggemar drama City Hunter, katanya sih, pasti tau dengan lokasi shooting salah satu adegannya yang satu
ini.
0 komentar:
Posting Komentar