Bismillahirrahmanirrahim...
Alhamdulillah, segala puji dan syukur selalu kupanjatkan kepada Maha Baik Allah SWT yang selalu memberikan nikmat dan karuanianya kepadaku, tak peduli seberapa bandelnya aku, seberapa seringnya aku luput dari perintahnya, tapi Dia selalu baik, Maha Baik Allah SWT...
15 Mei 2014,
Maha Baik itu berikan aku kesempatan untuk menginjakan kaki di tanah Korea Selatan, untuk mengikuti Korea International Women's Invention Exposition (KIWIE) 2014. Menginjakan kaki di negeri yang saat ini sedang menjadi perbincangan karena drama dan K-Popnya.
Tiba di Incheon Intl. Airport, bandar undara terbaik nomor 2 di dunia katanya. Setelah menukar uang sejumlah 100 USD di money changer bandara dan mendapatkan ganti sekitar 99.000 won, kulangkahkan kaki keluar bandara. Angin sejuk negeri ini langsung menyapaku seketika aku keluar dari bandara. 15 derajat celcius suhu udara saat itu, padahal sudah hampir masuk musim panas. Ku ambil mantel panjang yang memang sudah kusiapkan dari Jakarta. Lalu seorang wanita dari travel agent yang memegang papan namaku menghampiriku. Oh syukurlah aku sudah bertemu dengan orang yang akan menjemputku, lalu dia mengantarku ke bis. Setelah itu dia bicara dengan supir bis itu, dalam bahasa Korea, intinya mungkin memberi tahu kemana dia harus mengantarku.
Kira-kira satu setengah jam perjalanan dari Incheon ke tempat penginapanku di Gangnam. Sayangnya karena perjalanan 8 jam yang melelahkan dari Jakarta-Denpasar-Seoul, aku tertidur sampai kurang lebih satu jam di bis. Ketika terbangun, aku sudah berada di jalan tol, kulihat jendela kiriku adalah Sungai Han. Sungai terpanjang dan terbesar di Seoul, atau mungkin di Korea. Sungai ini memberlah kota Seoul menjadi distrik downtown dan perbisnisan (ini sih menurutku saja). Di perjalanan tersebut aku juga melihat menara Namsan, salah satu landmark terkenal Korea Selatan.
Ada banyak kejadian lucu ketika menaiki bis di Korea Selatan. Intinya karena keterbatasan bahasa yang kita miliki. Aku berbicara bahasa Inggris, si supir bis berbicara bahasa Korea, jadi bagaimana bisa nyambung? Sampai mungkin saking kesalnya, supir bis menyuruhku untuk duduk saja dengan isyarat tubuhnya. Akhirnya kami sampai juga di Kota Gangnam. Sampai sini permasalahan belum selesai. Si supir bis sudah ngacir begitu saja, meninggalkan aku dan temanku sendirian. Memang sih dia sudah menurunkan aku ditempat yang tepat, tapi.... harus kemana sekarang?
Aku lihat sekelilingku, tulisan huruf Korea semua! Mana bisa mengerti? Aku melihat alamat hotel yang sudah disiapkan untukku "Co-Op Residence, Seocho-dong, Gangnam-gu". Aku tanya kesana kemari setiap orang yang lewat, tidak ada yang mengerti. Hampir sejam berdiri saja dengan begitu banyak koper yang kami bawa. Kemana? Kemana? KEMANAAAA?
Tiba-tiba bagai melihat permata di tumpukan sampah *halah*, aku membaca tulisan alphabet "Tom and Toms Coffee". Ommo!!!! Kalau tidak salah, aku pernah membaca tentang kafe ini di buku Informasi yang panitia berikan padaku. Aku lihat lagi buku tersebut, tertulis...
"Co-Op Residence is in the second floor of Tom and Toms Coffee". Yuhuuuuuu.... kataku puas. Lets go!
Dan benar saja, sesampainya disana sudah banyak juga delegasi dari negara lain yang sampai. Setelah mengurus check in kamar dan lain sebagainya, kami pun mendapat kunci dan bisa beristirahat di kamar. Aku mendapat kamar nomor 405, dengan pin kamarnya *042412* hahaha masih ingat siapa tau kalau nanti ke Seoul lagi bisa digunakan *pikirian jahat*.
Setelah menjamma shalat Zuhur dan Ashar, membersihkan diri, merapikan barang bawaan lalu beristirahat sebentar, sekitar pukul 4 sore waktu Seoul aku dan temanku memutuskan untuk berjalan-jalan keluar sambil mencari tempat exhibisi kami esok. Tempatnya di "aT Center", tapi masalahnya sekarang, bagaimana caranya bisa kesana? Setelah tanya resepsionis hotel dan beberapa orang di jalan, akhirnya kutemui jawaban yang cukup membingungkan.
Jadi, untuk ke aT Center, ada yang bilang bisa naik subway turun di Yangzae Station, ada juga yang bilang turun di Express Bus Terminal Station. JADI YANG MANA YANG BENAR? Ada hal lain lagi yang lebih penting, oke, semisal saya memilih turun di Yangzae Station, tapi DARIMANA SAYA HARUS NAIK SUBWAY???? Dimana stasiun subway terdekat dari hotel ini???? Hadeh -,-
Si tukang hotel berkata, stasiun terdekat adalah Seoul Natl. University of Education Station, katanya tinggal luruuuuusss doang. Oke, kami pun mengikuti kata si empunya hotel. Luruuuusss doang, sampai kurang lebih 3 km huuffftt akhirnya ketemu juga stasiun itu. Dan kami coba naik subway tujuan Yangzae Station.
Bermodalkan dengan Tmoney yang dipinjamkan temanku dari Jakarta, kami mencoba masuk ke stasiun subway. Awalnya aku takut mencoba karena tidak tahu bagaimana cara menggunakan Tmoney ini, salah-salah nanti malah mesinnya berteriak atau berbunyi kencang dan semua orang melihat ke arahku lagi. Tapi temanku nekat mencobanya duluan, dan ternyata.......... TIIIITTT.............. pintu stasiun terbuka, dan dia pun langsung masuk. Haaah, syukurlah ternyata begitu caranya! Memang benar, kita tidak akan tahu sebelum kita mencobanya hahhaa.
Sampai di Yangzae Station, dimanakah aT Center? Itu masalahnya! Lelah berjalan kesana kemari, bertanya pun tak guna, karena memang masyarakat Korea minim yang bisa berbahasa Inggris. Perut keroncongan. Kami baru ingat, kalau kami belum makan semenjak take off dari pesawat tadi. Mau makan apa? Tak yakin disini halal semua. Aku melihat KFC, awalnya agak sanksi, tapi perut tidak bisa diajak kompromi. Aku masuk ke KFC, melihat menunya, bahkan menu pun pakai tulisan Korea bukan Inggris!!! Frustasi, aku coba tanya kepada petugasnya. Sambil menunjuk satu menu yang kulihat seperti daging ayam?
"Excuse me, can I ask you, is it a pork?", kataku dengan sangat lambat, berharap si petugas mengerti.
"Eh?", dan hanya raut muka kebingungan yang kudapat dari si petugas.
"I mean, is this chicken? Not pork, right?", kataku sambil memperagakan gerakan ayam dan babi, mencoba membuat si petugas mengerti. Konyol sekali memang, kalau diingat-ingat kenapa tidak ku download saja foto ayam dan babi, biar tidak usah memperagakan sambil melebar-lebarkan hidung seperti ini.
Tapi usahaku berbuah hasil, "Yes yes, it's chicken. Chicken.", kata si petugas berkali-kali mencoba meyakinkanku. Finalleeee....
Hanya dua potong daging ayam yang ditumpuk seperti sandwhich, minus sayuran dan nasi, ditambah segelas cola, hanya itu saja, sukses menembus angka 5000 won (sekitar Rp 60.000). Hah? Mahal yaaa... Tapi ketika sedang makan, tiba-tiba saja terasa mual, ku pikir karena kebanyakan daging. Tapi ketika kulihat, didalam daging ayam itu, terselip potongan-potongan daging berwana pink yang cantik sekali. Tiba-tiba berpikir macam-macam, pink... muda.... cantik.... apa..... daging..... babi.... ya.....seketika pikiranku macam-macam dan langsung tak nafsu makan. Sambil membuat lelucon, "ku pikir KFC jagonya ayam, tapi ternyata jagonya babi", ku buang sisa daging dan botol cola setelah selesai. Di KFC sini, pembeli membereskan sendiri mejanya. Jadi, tidak ada tuh pelayan atau petugas yang membersihkan meja selesai makan, kita harus membersihkannya sendiri.
Perjalanan dilanjutkan setelah puas mengisi perut, dengan entahlah daging apa itu, tidak mau membayangkannya lagi. Kami akhirnya memutuskan untuk bertanya pada seorang pria setengah baya yang sedang duduk membaca koran di pinggir jalan, dengan harapan Bapak ini berjas, seperti pebisnis, mungkin bisalah bahasa Inggrsi sedikit-sedikit.
"Excuse me, can you speak English?", tanyaku lambat.
"Yes, a little.", jawab Bapak itu. Syukurlah........
"Ooh.. finaly. I want to go to aT Center, could you please show us the way to go there?", tanyaku dengan ritme yang agak cepat.
Bapak itu bingung ternyata. Oh oke baiklah, "aT Center, I want to go to aT Center, where?", tanyaku sudah tidak memikirkan grammar lagi, yang penting dia mengerti.
"Oohh", katanya mengangguk.
Bapak itu kemudian menutup korannya dan bergegas pergi dengan memintaku mengikutinya. Jadi, si Bapak ini tau kemana kami harus pergi jika ingin ke aT Center, tapi keterbatasan bahasa yang dia miliki membuat dia memilih untuk mengantarkan kami ke tempat terdekat untuk ke tujuan tersebut, di banding bersusah-susah menjelaskan rute menggunakan bahasa Inggris kepada kami. Betapa baiknya orang-orang Korea ini, pikirku dalam hati.
Bapak tersebut membawa kami kesebuah shelter tempat menunggu Bus. Lalu menunjukan kami nomor-nomor bus yang harus dinaiki untuk sampai ke aT Center.
"Oooo... khamsahamidaaa", kataku kepadanya sambil membungkukkan badan. Mencoba mengikuti budaya sini. Bapak itu tersenyum puas karena dapat membantuku.
Kami menaiki bis seperti yang Bapak itu tunjukan, dan ternyata permasalahan belum selesai. Ini adalah pengalaman lucu lainnya jika pergi menggunakan bis di Seoul. Tempat harus membayar bis terletak di depan ketika kita baru memasuki bis. Ada dua cara untuk membayar bis, menggunakan Tmoney atau memasukan uang cash sesuai dengan harga yang tertera di kotak tersebut. Ketika aku hendak menggunakan Tmoney untuk membayar bis dengan menempelkan Tmoney-ku di mesin tersebut, ternyata tidak bisa. Saldo yang terisi di Tmoney ku tidak cukup. Oke, berati menggunakan uang pas. Harga bis 950 won kalau tidak salah, aku membayar dengan pecahan 1000 won, Yang jadi permasalahan adalah, si kotak ini tidak bisa memberikan kembalian, jadi setiap uang yang kumasukkan keluar lagi, keluar lagi. Ketika ku bertanya pada si pak supir (lagi-lagi supir disini memang kebanyakan yang sensi kali ya), dia malah menghardikku dan menyuruhku untuk duduk saja. Hah? Bagaimana tapi kami belum bayar? Tapi si pak supir terus mengeluarkan isyarat tubuh agar aku duduk. Dan baiklah aku duduk saja.
Sampai di aT Center pun aku belum membayar bis, tapi si pak supir itu tidak menagihku dan malah menyuruhku turun. Dan kejadian itu berulang lagi ketika kami ingin pulang ke hotel menggunakan bis, dalam hati berpikir, "ini si tukang bis pada gak mau dibayar apa ya? Besok-besok, seperti ini terus saja, berpura-pura bingung tidak mengerti harus membayar bis bagaimana, lalu dipersilahkan duduk, diantar sampai tempat tujuan, dipersilahkan turun, gratis!". Hahaha... kalau seperti ini terus mungkin bisa kaya di Seoul, candaku dengan temanku.
Sesampainya di aT Center, aku terpaksa harus pulang lagi karena tidak membawa poster serta perlengkapan lain untuk mengatur stand. Tapi, lagi-lagi karena kelelahan, aku tertidur di apartemen sampai sekitar pukul 19.30 waktu Seoul. Tapi jam segitu di Seoul masih terang ketika itu. Jadilah, aku dan temanku langsung bergegas menuju aT Center untuk mengatur stand. Aku dan temanku kembali ke apartemen sekitar pukul 22.00 waktu Seoul, kami sempatkan mampir ke sebuah minimart COU, membeli lakban ukuran standar yang harganya sekitar 24.000 rupiah. Wow! Setelah itu, aku juga beli mie instan seharga 12.000 rupiah dan air mineral botol kecil seharga 10.000 rupiah. MAHAL YAA!!!



0 komentar:
Posting Komentar